Kerjasama PERUMDA dan BUMDes PPU Diharapkan Dongkrak Cakupan Air Bersih Menjadi 80 Persen pada 2029

Gematrisatyamedia.com, Penajam Paser Utara, jumat 15 agustus 2025 – Guna memperluas cakupan layanan air bersih, Perusahaan Umum Daerah (PERUMDA) Penajam Paser Utara (PPU) merencanakan kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kerjasama ini bertujuan untuk mengelola Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), yang selama ini kurang optimal. Upaya ini dilakukan untuk memaksimalkan potensi sumber air yang ada tanpa harus merekrut lebih banyak pegawai.

Direktur Utama PERUMDA PPU, Abdul Rasyid, menjelaskan bahwa di PPU terdapat 21 titik Pamsimas dengan sumber air dari sumur bor. Selama ini, air langsung didistribusikan kepada masyarakat tanpa pengolahan, yang mengakibatkan kandungan besi yang tinggi.

“Air Pamsimas selama ini diambil langsung dari dalam bumi dan dialirkan ke masyarakat tanpa diolah. Akibatnya, kandungan besinya sangat tinggi,” ungkap Abdul Rasyid.

Kandungan besi berlebih ini terlihat dari endapan kuning di sekitar sumur. Untuk mengatasi masalah tersebut, PERUMDA PPU akan memberikan pendampingan kepada BUMDes dalam membangun dan mengoperasikan sistem pengolahan air.

“Tahap awal rencana ini, yaitu survei terhadap 21 titik Pamsimas, telah selesai. Selanjutnya, akan diadakan pertemuan dengan pihak-pihak terkait, termasuk BUMDes, Koperasi Merah Putih, kepala desa atau lurah, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), untuk membahas skema pengelolaan” tegasnya.

Abdul Rasyid mencontohkan keberhasilan skema ini di area Bandara VVIP Talemo, di mana sebuah BUMDes telah berhasil melayani sekitar 100 pelanggan. Ia mengakui jangkauan masih terbatas karena anggaran BUMDes yang belum memadai untuk membangun jaringan perpipaan.

Dalam skema ini, BUMDes akan membangun jaringan pipa menggunakan dana dari berbagai sumber seperti koperasi atau Alokasi Dana Desa (ADD), dan bertanggung jawab menagih biaya layanan dari masyarakat.

Untuk mencapai target cakupan air bersih 80 persen pada 2029, pemerintah daerah terus mengalokasikan dana untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) setiap tahun. Beberapa proyek yang sedang berjalan antara lain pembangunan jaringan Instalasi Pengolahan Air (WTP) di Waru, Saloloang, Corong, dan Tanjung.

Proyek lainnya adalah pembangunan WTP berkapasitas 10 liter per detik di Waru dan bantuan WTP 50 liter per detik di Sepaku yang jaringannya masih perlu dibangun.

Abdul Rasyid juga menambahkan bahwa ada informasi mengenai bantuan jaringan perpipaan dari provinsi tahun depan. Ia telah mengusulkan penambahan jaringan perpipaan dan WTP dalam APBD 2026.

Menurutnya, WTP yang sangat dibutuhkan saat ini berada di Babulu (minimal 30 liter per detik), Maridan (20 liter per detik), dan Sotek (30 liter per detik), karena kapasitas yang ada belum mencukupi untuk melayani masyarakat.

“Kita membutuhkan WTP minimal 30 liter/detik di Babulu, 20 liter/detik di Maridan, dan 30 liter/detik di Sotek. Meskipun jumlah penduduk di sana tidak terlalu padat, kapasitas yang ada saat ini belum memadai untuk melayani seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Penulis : Diaz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *